Lambang
kebesaran wanita Minangkabau disebut “Limpapeh Rumah nan gadang”.
Limpapeh artinya tiang tengah pada sebuah bangunan dan tempat memusatkan
segala kekuatan tiang-tiang lainnya. Apabila tiang tengah ini ambruk
maka tiang-tiang lainnya ikut jatuh berantakan. Dengan kata lain
perempuan di Minangkabau merupakan tiang kokoh dalam rumah tangga.
Pakaian Limpapeh Rumah Nan Gadang tidak sama ditiap-tiap nagari, seperti
dikatakan “Lain lubuk lain ikannyo, lain padang lain bilalangnyo”.
Namun pakaian Limpapeh Rumah Nan Gadang mempunyai sifat umum yang akan
kita kemukakan dalam tulisan ini.
Baju Batabue (Baju Bertabur)
Baju
bertabur maksudnya naju yang ditaburi dengan benang emas. Tabur emas
ini maksudnya kekayaan alam Minangkabau. Pakaian bertabur dengan benang
emas bermacam-macam ragam mempunyai makna bercorak ragamannya masyarakat
Minangkabau namun masih tetap dalam wadah adat Minangkabau.
Minsie
Minsie
adalah bis tepi dari baju yang diberi benang emas. Pengertian minsie ini
untuk menunjukkan bahwa demokrasi Minangkabau luas sekali, namun berada
dalam batas-batas tertentu di lingkungan alur dan patut.
Tingkuluak (Tengkuluk)
Tengkuluk
merupakan hiasan kepala perempuan yang berbentuk runcing dan bercabang.
Pengertiannya adalah Limpapeh Rumah Nan Gadang di Minangkabau tidak
boleh menjunjung beban atau beban yang berat.
Lambak atau Sarung
Sarung
wanitapun bermacam ragam, ada yang lajur ada yang bersongket dan ada
yang berikat. Sarung untuk menutup bagian tertentu sehingga sopan dan
tertib dipandang mata. Tentang susunannya sangat dipengaruhi oleh
situasi dan kondisi suatu daerah. Oleh karena itu ada yang berbelah di
belakang, ada yang dimuka dan ada yang disusun dibelakang.
Salempang
Pengertian
yang terkandung pada salempang ini adalah untuk menunjukkan tanggung
jawab seorang Limpapeh Rumah Nan Gadang terhadap anak cucunya dan
waspada terhadap segala sesuatu, baik sekarang maupun untuk masa yang
akan datang.
Dukuah (Kalung)
Kalung
yang dipakai oleh Limpapeh Rumah Nan Gadang tiap nagari dan Luhak di
Minangkabau bermacam-macam. Ada yang disebut kalung perada, daraham,
cekik leher, kaban, manik pualam dan dukuh panyiaram. Dukuh melambangkan
bahwa seorang Limpapeh selalu dalam lingkaran kebenaran, seperti dukuh
yang melingkar di leher. Dukuh juga melambangkan suatu pendirian yang
kokoh dan sulit untuk berubah atas kebenaran. Hal ini dikemukakan
“dikisabak dukuah dilihia, dipaliang bak cincin di jari”.
Galang (Gelang)
Terhadap
gelang ini dikiaskan “Nak cincin galanglah buliah”(ingin cincin gelang
yang dapat)”. Maksudnya rezeki yang diperoleh lebih dari yang diingini.
Gelang adalah perhiasan yang melingkari tangan dan tangan dipergunakan
untuk menjangkau dan mengerjakan sesuatu. Terhadap gelang ini
diibaratkan bahwa semuanya itu ada batasnya. Terlampau jangkau
tersangkut oleh gelang. Maksudnya dalam mengerjakan sesuatu harus
disesuaikan dengan batas kemampuan. Menurut ragamnya gelang ini ada yang
disebut “galang bapahek, galang ula, kunci maiek, galang rago-rago,
galang basa”.
Palaminan
Pelaminan
adalah tempat kedudukan orang besar seperti raja-raja dan penghulu.
Pada masa dahulu hanya dipakai pada rumah adat namun sekarang juga
dipakai pada pesta perkawinan. Hal ini mungkin disebabkan marapulai dan
anak dara sebagai raja dan ratu sehari. Perangkatan pelaminan mempunyai
kaitan dengan hidup dan kehidupan masyarakat adat Minangkabau. Dahulu
memasang pelaminan pada sebuah rumah harus dengan seizin penghulu adat
dan harus memenuhi ketentuan-ketentuan adat yang berlaku. Pelaminan
mempunyai bahagian-bahagian dan semuanya saling melengkapi.
0 komentar