Gambar dan Nama Pakaian Adat Sumatera Barat - Busana Tradisional
04.12Gambar dan Nama Pakaian Adat Sumatera Barat - Busana Tradisional
a. Pakaian Adat Tradisional Wanita Sumatera Barat
Pakaian adat tradisional Sumatera Barat yang dipergunakan oleh wanita
disebut dengan Limpapeh rumah nan gadang, yang terdiri dari :
- Baju Batabue (Baju Bertabur)
- Minsie
- Tingkuluak (Tengkuluk)
- Lambak atau Sarung
- Salempang
- Dukuah (Kalung)
- Galang (Gelang)
- Palaminan
Penjelasan Baju Adat Sumatera Barat :
Lambang kebesaran wanita Minangkabau disebut “Limpapeh Rumah nan
gadang”. Limpapeh artinya tiang tengah pada sebuah bangunan dan tempat
memusatkan segala kekuatan tiang-tiang lainnya. Apabila tiang tengah ini
ambruk maka tiang-tiang lainnya ikut jatuh berantakan. Dengan kata lain
perempuan di Minangkabau merupakan tiang kokoh dalam rumah tangga.
Pakaian Limpapeh Rumah Nan Gadang tidak sama ditiap-tiap nagari, seperti
dikatakan “Lain lubuk lain ikannyo, lain padang lain bilalangnyo”. Adapun Limpapeh rumah nan gadang ini bisa terdiri dari :
Baju bertabur maksudnya naju yang ditaburi dengan benang emas. Tabur
emas ini maksudnya kekayaan alam Minangkabau. Pakaian bertabur dengan
benang emas bermacam-macam ragam mempunyai makna bercorak ragamannya
masyarakat Minangkabau namun masih tetap dalam wadah adat Minangkabau.
Minsie adalah bis tepi dari baju yang diberi benang emas. Pengertian
minsie ini untuk menunjukkan bahwa demokrasi Minangkabau luas sekali,
namun berada dalam batas-batas tertentu di lingkungan alur dan patut.
Tengkuluk merupakan hiasan kepala perempuan yang berbentuk runcing dan
bercabang. Pengertiannya adalah Limpapeh Rumah Nan Gadang di Minangkabau
tidak boleh menjunjung beban atau beban yang berat.
Sarung wanitapun bermacam ragam, ada yang lajur ada yang bersongket dan
ada yang berikat. Sarung untuk menutup bagian tertentu sehingga sopan
dan tertib dipandang mata. Tentang susunannya sangat dipengaruhi oleh
situasi dan kondisi suatu daerah. Oleh karena itu ada yang berbelah di
belakang, ada yang dimuka dan ada yang disusun dibelakang.
Salempang adalah untuk menunjukkan
tanggung jawab seorang Limpapeh Rumah Nan Gadang terhadap anak cucunya
dan waspada terhadap segala sesuatu, baik sekarang maupun untuk masa
yang akan datang.
Kalung yang dipakai oleh Limpapeh Rumah Nan Gadang tiap nagari dan Luhak
di Minangkabau bermacam-macam. Ada yang disebut kalung perada, daraham,
cekik leher, kaban, manik pualam dan dukuh panyiaram. Dukuh
melambangkan bahwa seorang Limpapeh selalu dalam lingkaran kebenaran,
seperti dukuh yang melingkar di leher. Dukuh juga melambangkan suatu
pendirian yang kokoh dan sulit untuk berubah atas kebenaran. Hal ini
dikemukakan “dikisabak dukuah dilihia, dipaliang bak cincin di jari”.
Terhadap gelang ini dikiaskan “Nak cincin galanglah buliah”(ingin cincin
gelang yang dapat)”. Maksudnya rezeki yang diperoleh lebih dari yang
diingini. Gelang adalah perhiasan yang melingkari tangan dan tangan
dipergunakan untuk menjangkau dan mengerjakan sesuatu. Terhadap gelang
ini diibaratkan bahwa semuanya itu ada batasnya. Terlampau jangkau
tersangkut oleh gelang. Maksudnya dalam mengerjakan sesuatu harus
disesuaikan dengan batas kemampuan. Menurut ragamnya gelang ini ada yang
disebut “galang bapahek, galang ula, kunci maiek, galang rago-rago,
galang basa”.
0 komentar