Pakaian Adat Tradisional Pria Sumatera Barat
Pakaian adat pria Sumatera Barat disebut dengan pakaian penghulu.
Pakaian Penghulu merupakan pakaian kebesaran dalam adat Minangkabau dan
tidak semua orang dapat memakainya. Di samping itu pakaian tersebut
bukanlah pakaian harian yang seenaknya dipakai oleh seorang penghulu,
melainkan sesuai dengan tata cara yang telah digariskan oleh adat.
Pakaian penghulu merupakan seperangkat pakaian yang terdiri dari :
- Destar
- Baju
- Sarawa
- Sasampiang (Sesamping)
- Cawek (Ikat Pinggang)
- Sandang
- Keris
- Tungkek (Tongkat)
-
Penjelasan Pakaian adat Pria Sumatera Barat :
Destar
Deta atau Destar adalah tutup kepala atau sebagai perhiasan kepala
tutup kepala bila dilihat pada bentuknya terbagi pula atas beberapa
bahagian sesuai dengan sipemakai, daerah dan kedudukannya.
Baju
Baju penghulu berwarna hitam sebagai lambang kepemimpinan. Hitam
tahan tapo, putiah tahan sasah (hitam tahan tempa, putih tahan cuci).
Sarawa
Ungkapan adat mengenai sarawa ini mengatakan “basarawa hitan gadang
kaki, kapanuruik alue nan luruih, kapanampuah jalan pasa dalam kampung,
koto jo nagari, langkah salasai jo ukuran (bercelana hitam besar kaki,
kepenurut alur yang lurus, kepenempuh jalan yang pasar dalam kampung,
koto dan nagari langkah selesai dengan ukuran). Celana penghulu yang
besar ukuran kakinya mempunyai pengertian bahwa kebesarannya dalam
memenuhi segala panggilan dan yang patut dituruti dalam hidup
bermasyarakat maupun sebagai seorang pemangku adat. Kebesarannya itu
hanya dibatasi oleh salah satu martabat penghulu, yaitu murah dan mahal,
dengan pengertian murah dan mahal hatinya serta perbuatannya pada yang
berpatutan.
Sasampiang (Sesamping)
Sasampiang adalah selembar kain yang dipakai seperti pada pakaian
baju teluk belanga. Warna kain sesampiang biasanya berwarna merah yang
menyatakan seorang penghulu berani.
Cawek (Ikat Pinggang)
Cawek yang berarti ikat pinggang. Cawek
penghulu dalam pakaian adat ialah dari kain dan ada kalanya kain sutera.
Panjang dan lebarnya harus sebanding atau lima banding satu hasta dan
ujungnya pakai jumbai dan hiasan pucuk rebung. Arti yang terkandung dari
cawek ini dapat disimpulkan bahwa seorang penghulu harus cakap dan
sanggup mengikat anak kemenakan secara halus dan dengan tenang
mendapatkan akal budinya.
Sandang
Sesudah memakai destar dan baju, celana serta sesamping maak dibahu
disandang pula sehelai kain yang bersegi empat. Kain segi empat inilah
yang disebut sandang. Kain segi empat yang disandang ini dalam kata-kata
simbolisnya dikatakan “sandang pahapuih paluah di kaniang, pambungkuih
nan tingga bajapuik”, pangampuang nan tacicie babinjek”. Pengertiannya
adalah bahwa seorang penghulu siap menerima anak kemenakan yang telah
kembali dari keingkarannya dan tunduk kepada kebenaran menurut adat.
Begitu juga segala ketinggalan ditiap-tiap bidang moril maupun materil
selalu dijemput atau dicukupkan menurut semestinya.
Keris
Penghulu bersenjatakan keris yang tersisip di pinggang. Orang yang
tidak penghulu, tidak dibenarkan memakai keris; kecuali menyimpannya.
Tungkek (Tongkat)
Tongkat juga merupakan kelengkapan pakaian seorang penghulu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar